Pages

Rabu, 17 Desember 2014

CERPEN LIKA-LIKU KEHIDUPAN

SALAHKAH AKU
 gambar-animasi-orang-berfikir
Sumber gambar: http://fitri02.ilearning.me/2013/06/24/
Karya: Kristian Adhi P.

            Kebanyakan orang bilang kalau aku memiliki suatu yang tak mereka punya. Bahkan, sebagian lagi menganggap aku aneh. Aku pun tak tahu, apa yang sebenarnya mereka nilai dari diriku. Kupikir, mereka hanya mencari alasan saja. Atau malah, mereka mau berteman denganku.
            Kisah ini berawal ketika aku masih berumur kira-kira 8 tahun. Aku memiliki beberapa kesenangan yang kebanyakan orang tidak menyukainya. Aku tertarik dengan dunia komputer, mengutak-atik segalanya sendiri. Hal inilah yang mungkin membuatku menjadi merasa nyaman dengan duniaku. Ya, sejak itu aku lebih suka menyendiri, menjalankan program-program komputer, yang dimana anak seusiaku kala itu mungkin tidak tahu cara menjalankannya. Karena aku mulai nyaman dengan apa yang jadi kesukaanku itu, pernah hampir delapan jam aku menghabiskan waktuku di depan komputer, memainkan permainan kesukaanku. Bahkan aku sempat lupa makan kala itu. Tentu, tak pelak, orang tuaku memarahiku habis-habisan. Sejak itu, aku pun mulai sadar, bahwa kesukaanku itu salah.
            Baiklah, aku mencoba melakukan kesukaanku yang lain. Menggambar dan menyukai kartun, itulah kesukaan baruku. Kali ini pun, aku berharap tidak terulang kembali peristiwa menyakitkan sperti yang lalu. Setiap ada gambar dan kartun yang bagiku menarik, aku berusaha meniru gambar itu. Hingga bahkan, aku mulai tertarik dengan kesukaan baruku itu. Aku mulai masuk pada zona nyaman menyukainya. Aku pun menuangkan segala imajinasiku ke dalam kartun. Saat itu, aku pun mulai didekati teman-teman, sekadar untuk membuatkan gambar sesuai yang mereka mau. Tentu, aku terima dengan senang hati. Harapanku, mereka tak hanya jadi temanku saat mereka membutuhkan gambar bagus dariku. Namun juga untuk selamanya, menjuadi tempat mencurahka isi hatiku kepadanya.
            Memasuki usia SMP, aku kembali mengalami peristiwa pahit. Aku kembali dijauhi teman-temanku. Banyak yang melakukan “bully” terhadapku. Hanya karena aku sering tak mau meminjamkan apa yang mereka minta. Bukannya tak mau, aku hanya tak mau kehilangan benda-bendaku, karena aku sadar aku orang yang teledor. Namun, mereka menganggap aku sombong, tak peduli teman, bahkan mereka menghardikku kalau aku lebih baik hidup sendiri saja di dunia ini. Ku hanya bisa tertegun mendengarnya. Apa sebenarnya salahku? Apa yang menjadikanku mengalami kejadian ini terus menerus? Apakah Tuhan juga membenciku? Ah, mereka hanya bercanda! Mungkin, mereka ingin menujukkan kalau mereka mau bersahabat denganku.
            Tebakanku itu ternyata salah besar. Dalam hati, mereka secara tak langsung membunuhku perlahan. Mereka terus menerus memaki aku dan menyalahkan aku, bahkan untuk sesuatu yang terkadang aku anggap aku benar melakukannya. Entah, apa yang jadi pemikiran mereka. Aku pun tak tahu. Sejak itu, aku mulai merasa frustasi. Aku mulai melampiaskan segalanya ke orang rumahku. Aku pun enggan bergaul dengan teman-teman sebayaku di sekitar rumahku. Ya, trauma mendalam membuatku menghindarkan diri dari setiap aktivitas anak kebanyakan. Aku pun tak mau, mereka yang bisa aku jagakan untuk menjadi tempat mencurahklan isi hatiku, malah menjadi pembunuhku yang lain. Aku mulai banyak mengurung diri di kamarku. Aku pun membuat kondisi ruang pribadiku itu menjadi beda total dari semula. Ini semua menjadi tempat mencurahkan segala frustasiku.
            Rasa frustasiku ini semakin memuncak ketika orang tuaku memulai masalah pribadi. Hampir setiap hari mereka mereka melakukan adegan yang tak sepantasnya di depan mataku sendiri. Oleh karena itu, aku merasa semakin tertekan. Karena rasa emosi yang memuncak, tak segan-segan aku mengambil pisau di dapur, dan ingin rasanya aku memotong tangan ayahku yang selalu menyakiti raga  ibuku.
            Hingga akhirnya, aku diungsikan ke rumah nenekku. Aku merasa sedikit bahagia, karena aku berasa bisa bebas dari segala hal yang membuat aku frustasi ini. Aku pun bisa membuat diriku nyaman dan melupakan segala yang terjadi. Aku kali ini bisa mengekspresikan apa yang aku mau dengan bebas tanpa halangan ayahku. Oke, saat inilah aku merasa dunia ada di tanganku.
            Karena aku merasa bebas dan nenekku juga tidak terlalu memperhatikan apa yang aku lakukan, maka aku menjadi sangat nyaman dengan diriku. Kebiasaan lamaku kembali aku lakukan tanpa sadar. Aku kembali menjadi pelit, kata orang. Aku pun dianggap sebagai biang keladi terjadinya masalah-masalah di kelasku. Hanya karena aku menginginkan apa yang aku kehendaki terlaksana.
            Suatu hari, di pagi yang dingin, aku dan teman-teman belajar di kelas sperti biasa. Karena aku merasakan hawa dingin yang terlalu menyerbak, akhirnya aku berniat mematikan kipas angin yang sedang berputar tepat di atasku. Tanpa pikir panjang, langsung saja aku menuju ke saklar kipas angin itu, lalu mematikannya. Tetapi, teman-temanku menyorakiku. Entah apa yang mereka pikirkan, aku tak menggubrisnya. Aku kembali duduk di bangkuku, dan melanjutkan belajarku.
Tak berselang lama, ada satu temanku, tepat ia duduk di depanku maju ke arah saklar kipas itu. Ia menyalakan kipas angin itu. Tentu, aku tak terima dengan apa yang ia perbuat. Akhirnya, sebelum ia duduk,. Aku bergegas ke saklar itu dan mematikannya lagi. Tetapi, temaku berusaha menghidupkannya ulang. Aku pun langsung memegang tangan temanku itu, memberanikan diriku menghadapinya. Ia kaget. Tetapi, ia malah membalasnya dengan tatapan tajam, seolah menantangku. Aku pun tak takut menghadapinya. Langsung saja aku menampar pipinya. Ia pun tak terima dan langsung mencengkeram kuat tanganku. Aku sebenarnya merasa kesakitan hebat, tapi karena aku sudah berniat menghadapinya, aku tahan sakit itu. Kejadian ini berlangsung hingga guru kami memisahkan kami. Kami pun seketika itu juga dibawa ke ruang BK untuk berdamai. Sejak saat itulah, aku merasa risih dan terganggu bila temanku tak melaksanakan apa yang jadi kehendakku.
            Hari terus berlalu. Tiba saatnya aku masuk SMA. Ya, umurku memang sudah dewasa, tetapi rasa ingin menegakkan kehendakku masih belum hilang dari diriku. Kembali aku mengalami masa yang sama ketika aku SMP lalu. Singkatnya, ketika jam Pramuka berlangsung, aku sempat terbawa emosiku karena teman-temanku sangat gaduh kala kakak-kakak DA sedang menjelaskan tentang materi yang dipelajari, drama. Aku saat itu langsung mengambil microphone yang sedang dipakai kakak DA menjelaskan. Aku langsung berteriak keras, “Saat dijelaskan tidak ada yang bicara, semua diam!” Sontak saja, seluruh aula bergemuruh menertawakan aku. Karena aku merasa emosiku memuncak, aku akhirnya membanting baret Pramukaku ke lantai. Bukannya diam, teman-teman di aula malah semakin meledek aku. Agar suasana tak semakin kacau, akhirnya salah satu guru pendamping mengajakku keluar ruangan dan menasehatiku. Karena aku sudah terbawa emosi kala itu, aku tak terlalu mendengarkan apa yang ia sampaikan.
            Kejadian ini terulang saat kenaikan kelas hampir dekat. Aku kembali terbawa emosi karena melihat teman-temanku yang terlalu lelet dan tidak cekatan dalam beraktivitas. Kegiatan kala itu ialah tentang empon-empon, yaitu kami harus membau dan mengiris sedikit bumbu dapur itu satu per satu, agar kami bisa menjawab soal yang diberikan. Emosiku memuncak ketika aku menyodorkan pisau ke arah teman-temanku yang aku anggap lelet. Aku pun kembali menerima cercaan, cemoohan dan lagi-lagi aku harus dibina oleh guru pembina yang sama. Jujur, aku sudah amat bosan ketika guru menegurku dan menasehatiku. Sungguh, apakah mereka tidak tahu, aku hanya ingin mengajarkan mereka disiplin dan bekerja cekatan? Sungguhkah aku salah, melakukan hal yang aku anggap benar?
Aku masuk kelas XI. Dan ternyata, bayanganku teman-teman kelas XI yang bisa menerimaku apa adanya, hanya sebagian kecil saja. Bagiku, hanya ada segelintir orang saja yang benar-benar mau menerima aku dan menghargai aku apa adanya. Aku kembali merasa teransingkan, dan lagi-lagi aku kembali asyik dengan laptopku setiap pembelajaran berlangsung.
            Sebulan aku di kelas XI, aku jatuh sakit. Aku mendertia penyakit yang dianggap mudah menular, cacar. Maka, entah apa, tidak ada satu temanpun yang mau menjengukku, sekadar datang dan menemuiku. Mungkin , sudah banyak kesalahan yang aku perbuat kepada mereka. Atau, mereka enggan menemuiku hanya karena aku menderita cacar.
            Sekembalinya aku masuk sekolah, ternyata bayanganku itu salah besar. Ternyata, mereka tidak menjengukku karena mereka terlalu banyak tugas dan ulangan seminggu ini. Wali kelas ku pun menceritakan, bahwa sebenarnya aku selalu mereka perhatikan penuh, bahkan setiap detil penyakitku, melalui perantara orang tuaku. Sejujurnya, aku tak yakin dengan apa yang mereka bicarakan. Namun, aku hanya berpikir, ternyata bayanganku terhadap mereka salah.
            Akhirnya, pada jam kosong, teman-temanku mulai peduli denganku. Mereka pun seolah mengajukan syarat kepadaku, agar mereka mau berteman denganku. Setelah urumuskan, ternyata mereka hanya ingin aku berubah. Berubah menjadi orang yang peduli dengan teman sejawat, tidak hanya bermain laptop sepanjang hari. Ternyata, selama ini mereka peduli denganku. Mereka pun tak ingin aku terjerumus ke arah yang sesat, hanya karena aku egois dan kurang peduli.
            Semenjak itu, aku sekarang berktekad mengubah diriku. Aku mulai mendekati setiap teman-temanku yang butuh dampinganku. Walaupun aku masih sulit mengubah kebiasaanku, namun guru-guru dan teman-teman sudah mulai mengapresiasi kerja kerasku dalam aku mengubah diriku. Oleh karena inilah, aku kembali bisa merasakan nyaman dan damai dalam hatiku. Sehingga, aku bisa menyimpulkan bahwa teman itu ternyata lebih penting dari diri sendiri, karena tanpa teman aku tak bisa berbuat banyak, bahkan sekadar untuk belajar.

-----TAMAT-----

Rabu, 10 Desember 2014

Describing Place-Balekambang, Surakarta, Central Java, Indonesia

BALEKAMBANG
Surakarta City Park

 written by: Kristian Adhi Prasetyo

          If you ask me, “What is your favorite place?”, actually I’ll say,”Balekambang”. Why? Because, in this place, you can enjoy the fresh air because there are some big trees which produce fresh oxygen for your body. And, we can see so many plants, flowers, and some scarce trees there. I guess, if you come there, you’ll fell the different experience, actually better than the others city park.
       Beside of them, you can see so many animals too. Such as, monkeys, deer, snakes, duck, fish, and etcetera in the mini zoo and a little pond. But, we are not allowed to give them food. It can be make some risk of their life.
     There, we can enjoy the fresh air, to relax after a busy day, a crowded street, and maybe after work done outside of normal working hours. Or, we can socialization with the others. Or, just for recreation for a weekend or holiday.
        In this place, there is a small lake. By the myth, the lake was a poll for the Surakarta Hadiningrat king or queen. But now, we can’t swim there. Because it’s too danger. So, as a change, you can play duck boat to take around the pond and seeing some unique fish there.
        If you wanna to try some challenge, Balekambang invites you to try the outbound there. There are flying fox, tire bridge, hanging tire, and many more. 
     The park closed at 18.00. But, in the Saturday night, there is a Javanese culture performance, called Kethoprak. Or sometimes, a traditional ballet form a story called Ramayana. The others events sometimes held there too.
        I think that’s all about my favorite place. If you wanna go there, 08.00 until 17.00 is the best time to enjoy the situation there. 
       Thanks.