SALAHKAH AKU
Sumber gambar: http://fitri02.ilearning.me/2013/06/24/
Karya: Kristian Adhi P.
Kebanyakan orang bilang kalau aku
memiliki suatu yang tak mereka punya. Bahkan, sebagian lagi menganggap aku
aneh. Aku pun tak tahu, apa yang sebenarnya mereka nilai dari diriku. Kupikir,
mereka hanya mencari alasan saja. Atau malah, mereka mau berteman denganku.
Kisah ini berawal ketika aku masih
berumur kira-kira 8 tahun. Aku memiliki beberapa kesenangan yang kebanyakan
orang tidak menyukainya. Aku tertarik dengan dunia komputer, mengutak-atik
segalanya sendiri. Hal inilah yang mungkin membuatku menjadi merasa nyaman
dengan duniaku. Ya, sejak itu aku lebih suka menyendiri, menjalankan
program-program komputer, yang dimana anak seusiaku kala itu mungkin tidak tahu
cara menjalankannya. Karena aku mulai nyaman dengan apa yang jadi kesukaanku itu,
pernah hampir delapan jam aku menghabiskan waktuku di depan komputer, memainkan
permainan kesukaanku. Bahkan aku sempat lupa makan kala itu. Tentu, tak pelak,
orang tuaku memarahiku habis-habisan. Sejak itu, aku pun mulai sadar, bahwa
kesukaanku itu salah.
Baiklah, aku mencoba melakukan
kesukaanku yang lain. Menggambar dan menyukai kartun, itulah kesukaan baruku.
Kali ini pun, aku berharap tidak terulang kembali peristiwa menyakitkan sperti
yang lalu. Setiap ada gambar dan kartun yang bagiku menarik, aku berusaha
meniru gambar itu. Hingga bahkan, aku mulai tertarik dengan kesukaan baruku
itu. Aku mulai masuk pada zona nyaman menyukainya. Aku pun menuangkan segala
imajinasiku ke dalam kartun. Saat itu, aku pun mulai didekati teman-teman,
sekadar untuk membuatkan gambar sesuai yang mereka mau. Tentu, aku terima
dengan senang hati. Harapanku, mereka tak hanya jadi temanku saat mereka
membutuhkan gambar bagus dariku. Namun juga untuk selamanya, menjuadi tempat
mencurahka isi hatiku kepadanya.
Memasuki usia SMP, aku kembali
mengalami peristiwa pahit. Aku kembali dijauhi teman-temanku. Banyak yang
melakukan “bully” terhadapku. Hanya karena aku sering tak mau meminjamkan apa
yang mereka minta. Bukannya tak mau, aku hanya tak mau kehilangan
benda-bendaku, karena aku sadar aku orang yang teledor. Namun, mereka
menganggap aku sombong, tak peduli teman, bahkan mereka menghardikku kalau aku
lebih baik hidup sendiri saja di dunia ini. Ku hanya bisa tertegun
mendengarnya. Apa sebenarnya salahku? Apa yang menjadikanku mengalami kejadian
ini terus menerus? Apakah Tuhan juga membenciku? Ah, mereka hanya bercanda!
Mungkin, mereka ingin menujukkan kalau mereka mau bersahabat denganku.
Tebakanku itu ternyata salah besar.
Dalam hati, mereka secara tak langsung membunuhku perlahan. Mereka terus
menerus memaki aku dan menyalahkan aku, bahkan untuk sesuatu yang terkadang aku
anggap aku benar melakukannya. Entah, apa yang jadi pemikiran mereka. Aku pun
tak tahu. Sejak itu, aku mulai merasa frustasi. Aku mulai melampiaskan segalanya
ke orang rumahku. Aku pun enggan bergaul dengan teman-teman sebayaku di sekitar
rumahku. Ya, trauma mendalam membuatku menghindarkan diri dari setiap aktivitas
anak kebanyakan. Aku pun tak mau, mereka yang bisa aku jagakan untuk menjadi
tempat mencurahklan isi hatiku, malah menjadi pembunuhku yang lain. Aku mulai
banyak mengurung diri di kamarku. Aku pun membuat kondisi ruang pribadiku itu
menjadi beda total dari semula. Ini semua menjadi tempat mencurahkan segala
frustasiku.
Rasa frustasiku ini semakin memuncak
ketika orang tuaku memulai masalah pribadi. Hampir setiap hari mereka mereka
melakukan adegan yang tak sepantasnya di depan mataku sendiri. Oleh karena itu,
aku merasa semakin tertekan. Karena rasa emosi yang memuncak, tak segan-segan
aku mengambil pisau di dapur, dan ingin rasanya aku memotong tangan ayahku yang
selalu menyakiti raga ibuku.
Hingga akhirnya, aku diungsikan ke
rumah nenekku. Aku merasa sedikit bahagia, karena aku berasa bisa bebas dari
segala hal yang membuat aku frustasi ini. Aku pun bisa membuat diriku nyaman
dan melupakan segala yang terjadi. Aku kali ini bisa mengekspresikan apa yang
aku mau dengan bebas tanpa halangan ayahku. Oke, saat inilah aku merasa dunia
ada di tanganku.
Karena aku merasa bebas dan nenekku
juga tidak terlalu memperhatikan apa yang aku lakukan, maka aku menjadi sangat
nyaman dengan diriku. Kebiasaan lamaku kembali aku lakukan tanpa sadar. Aku
kembali menjadi pelit, kata orang. Aku pun dianggap sebagai biang keladi
terjadinya masalah-masalah di kelasku. Hanya karena aku menginginkan apa yang
aku kehendaki terlaksana.
Suatu hari, di pagi yang dingin, aku
dan teman-teman belajar di kelas sperti biasa. Karena aku merasakan hawa dingin
yang terlalu menyerbak, akhirnya aku berniat mematikan kipas angin yang sedang
berputar tepat di atasku. Tanpa pikir panjang, langsung saja aku menuju ke
saklar kipas angin itu, lalu mematikannya. Tetapi, teman-temanku menyorakiku.
Entah apa yang mereka pikirkan, aku tak menggubrisnya. Aku kembali duduk di
bangkuku, dan melanjutkan belajarku.
Tak
berselang lama, ada satu temanku, tepat ia duduk di depanku maju ke arah saklar
kipas itu. Ia menyalakan kipas angin itu. Tentu, aku tak terima dengan apa yang
ia perbuat. Akhirnya, sebelum ia duduk,. Aku bergegas ke saklar itu dan
mematikannya lagi. Tetapi, temaku berusaha menghidupkannya ulang. Aku pun
langsung memegang tangan temanku itu, memberanikan diriku menghadapinya. Ia
kaget. Tetapi, ia malah membalasnya dengan tatapan tajam, seolah menantangku.
Aku pun tak takut menghadapinya. Langsung saja aku menampar pipinya. Ia pun tak
terima dan langsung mencengkeram kuat tanganku. Aku sebenarnya merasa kesakitan
hebat, tapi karena aku sudah berniat menghadapinya, aku tahan sakit itu.
Kejadian ini berlangsung hingga guru kami memisahkan kami. Kami pun seketika
itu juga dibawa ke ruang BK untuk berdamai. Sejak saat itulah, aku merasa risih
dan terganggu bila temanku tak melaksanakan apa yang jadi kehendakku.
Hari terus berlalu. Tiba saatnya aku
masuk SMA. Ya, umurku memang sudah dewasa, tetapi rasa ingin menegakkan
kehendakku masih belum hilang dari diriku. Kembali aku mengalami masa yang sama
ketika aku SMP lalu. Singkatnya, ketika jam Pramuka berlangsung, aku sempat
terbawa emosiku karena teman-temanku sangat gaduh kala kakak-kakak DA sedang
menjelaskan tentang materi yang dipelajari, drama. Aku saat itu langsung
mengambil microphone yang sedang
dipakai kakak DA menjelaskan. Aku langsung berteriak keras, “Saat dijelaskan
tidak ada yang bicara, semua diam!” Sontak saja, seluruh aula bergemuruh menertawakan aku. Karena aku merasa
emosiku memuncak, aku akhirnya membanting baret Pramukaku ke lantai. Bukannya
diam, teman-teman di aula malah semakin meledek aku. Agar suasana tak semakin
kacau, akhirnya salah satu guru pendamping mengajakku keluar ruangan dan menasehatiku.
Karena aku sudah terbawa emosi kala itu, aku tak terlalu mendengarkan apa yang
ia sampaikan.
Kejadian ini terulang saat kenaikan
kelas hampir dekat. Aku kembali terbawa emosi karena melihat teman-temanku yang
terlalu lelet dan tidak cekatan dalam beraktivitas. Kegiatan kala itu ialah
tentang empon-empon, yaitu kami harus membau dan mengiris sedikit bumbu dapur
itu satu per satu, agar kami bisa menjawab soal yang diberikan. Emosiku
memuncak ketika aku menyodorkan pisau ke arah teman-temanku yang aku anggap
lelet. Aku pun kembali menerima cercaan, cemoohan dan lagi-lagi aku harus
dibina oleh guru pembina yang sama. Jujur, aku sudah amat bosan ketika guru
menegurku dan menasehatiku. Sungguh, apakah mereka tidak tahu, aku hanya ingin
mengajarkan mereka disiplin dan bekerja cekatan? Sungguhkah aku salah,
melakukan hal yang aku anggap benar?
Aku
masuk kelas XI. Dan ternyata, bayanganku teman-teman kelas XI yang bisa
menerimaku apa adanya, hanya sebagian kecil saja. Bagiku, hanya ada segelintir
orang saja yang benar-benar mau menerima aku dan menghargai aku apa adanya. Aku
kembali merasa teransingkan, dan lagi-lagi aku kembali asyik dengan laptopku
setiap pembelajaran berlangsung.
Sebulan aku di kelas XI, aku jatuh
sakit. Aku mendertia penyakit yang dianggap mudah menular, cacar. Maka, entah
apa, tidak ada satu temanpun yang mau menjengukku, sekadar datang dan
menemuiku. Mungkin , sudah banyak kesalahan yang aku perbuat kepada mereka.
Atau, mereka enggan menemuiku hanya karena aku menderita cacar.
Sekembalinya aku masuk sekolah,
ternyata bayanganku itu salah besar. Ternyata, mereka tidak menjengukku karena
mereka terlalu banyak tugas dan ulangan seminggu ini. Wali kelas ku pun
menceritakan, bahwa sebenarnya aku selalu mereka perhatikan penuh, bahkan setiap
detil penyakitku, melalui perantara orang tuaku. Sejujurnya, aku tak yakin
dengan apa yang mereka bicarakan. Namun, aku hanya berpikir, ternyata
bayanganku terhadap mereka salah.
Akhirnya, pada jam kosong,
teman-temanku mulai peduli denganku. Mereka pun seolah mengajukan syarat
kepadaku, agar mereka mau berteman denganku. Setelah urumuskan, ternyata mereka
hanya ingin aku berubah. Berubah menjadi orang yang peduli dengan teman
sejawat, tidak hanya bermain laptop sepanjang hari. Ternyata, selama ini mereka
peduli denganku. Mereka pun tak ingin aku terjerumus ke arah yang sesat, hanya
karena aku egois dan kurang peduli.
Semenjak itu, aku sekarang berktekad
mengubah diriku. Aku mulai mendekati setiap teman-temanku yang butuh
dampinganku. Walaupun aku masih sulit mengubah kebiasaanku, namun guru-guru dan
teman-teman sudah mulai mengapresiasi kerja kerasku dalam aku mengubah diriku.
Oleh karena inilah, aku kembali bisa merasakan nyaman dan damai dalam hatiku.
Sehingga, aku bisa menyimpulkan bahwa teman itu ternyata lebih penting dari
diri sendiri, karena tanpa teman aku tak bisa berbuat banyak, bahkan sekadar
untuk belajar.
-----TAMAT-----
