Kepadamu Sang Tukang
Oleh: Kristian Adhi Prasetyo
Kepadamu sang tukang, aku hanya mampu terbelalak dan menganga, atas setiap susunan batu yang kau susun selama ini. Kepadamu sang tukang, aku hanya mampu mengucakan “amboi” atas tembok yang kau buat untukku.
Suatu hari, gundahku tiba dari plesirnya di antah berantah. Tembok itu, kini cacat. Padahal, aku hanya ingin menempelkan origami bunga di antara origami-origami yang lain. Padahal, maksudku hanya ingin merekatkan antara lem dan batu itu. Akan tetapi, catat!
Sebagai perang atas gundahku, biarkanlah aku mencari batu penggantinya. Biarkanlah aku yang mengganti batu itu. Aku pun berjanji, tak sekadar batu kali! Setelahnya, biarkanlah aku menjaga tembok itu dari lumut. Sediaku membersihkannya. Mengapa? Agar origami-origami yang telah aku buat sebelumnya, tak dilahap lumut berdosa.
Oleh karenanya, izinkanlah aku melakukannya. Tapi, kau pun tahu, tak ada anak lahir dari si jantan. Temani aku! Hingga sampai penjajah datang, kau bisa menyadari, sungguh eloknya tembok yang kau bangun, bersenandung mesra dengan origami-origamiku. Maka, bersiaplah untuk itu, sang tukang!