Pada jaman dulu, sering terjadi
peperangan antara bangsa Mongolia Barat dengan Mongolia Timur. Bangsa Mongolia
Timur yang merupakan bangsa asli berusaha mempertahankan wilayahnya dari
Mongolia Barat. Saat itu, hanya panglima besarlah yang layak memberi perintah.
Di suatu wilayah di
Mongolia Timur, terdapat suatu kerajaan besar yang menjadi kunci pertahanan
Mongolia Timur. Di kerajaan itu, terdapat seorang perwira gagah berani bernama
John Haag von Bosch. Dia adalah perwira keturunan Belanda. Bersamanya, ada satu
pasukan yang kuat. Pasukan ini juga menjadi kunci utama perlawanan terhadap
Mongolia Barat.
John Haag, mempunyai
seekr Rajawali yang sudah berumur kira-kira dua tahun. Rajawali itu menjadi
rajawali kesayangannya, sebab kemanapun ia pergi, rajawali itu selalu diajaknya
di atas pundaknya, bahkan saat perang sekalipun. Rajawali ini sudah menolong
John dan pasukannya beberapa kali. Saat ada bahaya, rajawali ini selalu
memberitahu John dengan cara yang beragam.
Suatu saat, ada berita
bahwa Mongolia Barat akan masuk ke wilayah Mongolia Timur melalui hutan tengah.
Semua penduduk dan kerajaan menjadi panic. Kemudian, salah seorang panglima
besar bernama Michael Richard memutuskan untuk menyuruh pasukan John untuk
menjaga hutan tengah. Dengan persiapan seadanya dan tidak begitu banyak membawa
bekal, John dan pasukannya yang berjumlah banyak itu berangkat. Tak lupa, John
membawa rajawali kesayangannya itu. Mereka menetap di hutan selama kuranglebih
tiga hari. Selama itu, tiada penyerangan berarti dari Mongolia Barat.
Saat sore hari tiba, John
merasa haus yang amat sangat. Kemudian, ia berniat mengambil air dari salah
satu sumber air, yang lokasinya tak jauh
dari tempat mereka menetap. John kemudian mengeluarkan suatu cawan dari tanah
liat, peninggalan ayahnya. Saat ia ingin meminum air yang sudah diambilnya dalam cawan, datanglah rajawali
tersebut menyalak John. Air dalam cawan itu tumpah. John berpikir, rajawali itu
hanya mengajak bercanda, jadi ia biarkan. Saat ia ingin meminum air itu kedua
kalinya, rajawali tadi kembali menyalak John. Kali ini, John mulai emosi, sebab
cawan peninggalan itu sedikit retak akibat burung itu. Tapi, John masih
membiarkannya. Saat ketiga kalinya, John inign meminum air itu kembali,
datanglah rajawali itu dari sisi kanan John, tanpa sepengetahuan John. Kali
ini, John benar-benar emosi, sebab cawan itu kini sudah menjadi pecah.
Saat rajawali itu
kembali, John segera menangkap dan menggantungnya di cabang pohon besar.
Setelahnya, ia mengambil pedang, dan segera mengarahkannya kearah rajawali itu.
Rajawali itu pun terbunuh pedang John. Kemudian, John mengubunya di bawah pohon
itu. Kembalilah John ke tempat mereka menetap. Tanggaplah seluruh pasukan dan
menanyai John dimana rajawali itu. Tetapi John berdiam diri dan segera masuk ke
kemahnya.
Keesokan harinya, John
dan kawan-kawannya berniat kembali ke istana mereka. Sebelum berangkat, mereka
memutuskan untuk mencari air sebagai bekal di perjalanan. Mereka pun mencari
hulu sumber mata ari yang dekat kemah mereka. Setelah sampai, John dan
kawan-kawannya terkejut saat ada bangkai raksasa yang sudah membusuk. Bangkai
itu tergeletak tepat di atas sumber air itu muncul. Mereka mengurungkan niat
mereka untuk mengambil air itu, sebab mereka tahu air itu sudah terkontaminasi
oleh bakteri dari bengkai itu. Tiba-tiba, John berlari kembali ke kemahnya dan
segera mencari sekop. Ternyata, ia menggali kembali tempat rajawali itu
diletakkan. Ia mengangkatnya dan memeluknya erat rajawali yang sudah mati itu.
Ia sangat menyesal, dan meneteskan air mata. Ia tahu, bahwa burung itu
sebenarnya sudah punya niat baik untuk meengingatkan John. Apabila tidak
diingatkan, mungkin John sudah sakit akibat meminum air tercemar itu. Kemudian,
datanglah teman pasukannya. Ia berusaha keras membujuk John untuk melupakan dan
meninggalkan semuanya, sebab apa ang telah terjadi tak mungkin bisa diulang.
John pun bangun dan
memberesi kemahnya, beserta dengan teman pasukan lainnya. Ia lalu membawa
rajawali itu ke istana. Sesampai mereka di istana, mereka diharuskan untuk melapor
kepada panglima besar. Sesudah itu, John mencari bahan pengawet dari bahan
seadanya. Kemudian ia mengolesinya ke tubuh rajawali itu. Selanjtunya, rajawali
itu diletakkan di atas sebatang rantig tebal. Kembali diolesinya tubuh rajawali
itu. Kemudian, John menyimpan benda tersebut di ruanggannya, dengan ditutupi
pati kaca dilapisi perunggu. Sejak saat itu, John menjadi sadar, bahwa ia harus berani mengingatkan kesalahan orang lain,
seperti apa yang telah dilakukan rajawali itu kepadanya. Selama dalam mengingatkan itu, didasarkan pada kasih dan
kelemah lembutan. Dan, harus mau menerima apa yang menjadi setiap resikonya.