Pages

Selasa, 13 September 2016

Hujan Tanpa Air, sebuah puisi lirik

Hujan Tanpa Air

Dari jurang lubuk yang tergelap,
Entah kapan aku harus tuliskan waktunya.
            Kepadamu yang dulu pernah ku harapkan,
Hanya secuil kisah, betapa pahitnya pengorbanan yang tak terbalaskan,  dariku untukmu yang akan ku tuliskan di lembaran lusuh ini. Tak bermakna, apalagi bagimu yang selalu memberikan pisau-pisau itu seikhlasmu. Ya, mungkin ini ialah sampah busuk bagimu. Sampah!
Sekadar catatan kecil bagimu, aku yang pernah banyak mengertimu. Saat kau membutuhkanku, aku pun lagsung mengiyakan, walaupun mungkin aku sangat sibuk. Akulah yang dulu selalu mengirimkan morse kepadamu. Mengapa? Itulah yang kau minta sendiri. Kau merasa terganggu apabila kau dan aku “dijodohkan” oleh mereka.
            Sementara langit menunjukkan kasihnya kepada kita, ia menunjukkan sang dewa tertinggi di siang dan dewi yang setia menemani di kala malam, kau justru mengambil lubukku atas lakuku, lalu merusaknya, merobeknya, dan membuangnya serta menuduhku atas apa yang tak kulakukan (ya, karena kala itu aku belum menaruh hati kepadamu). Namun, itukah yang telah kau berikan kepadaku? Sekadar ucapan terima kasih, bahkan senyuman simpul pun tidak. Ya, tidak!
            Memang, kala ini akulah yang bersalah. Tak menggubrismu disaat kau mendekatiku. Memang ini salahku, menaruh ekspektasi setinggi awan, namun justru kau menjatuhkanku di serpihan batu tajam yang menunjam.
            Tak bisa ku buang, setiap jengkal memori lama atasmu. Selfie bersamamu, membuat tugas, membicarakan teman, sampai aku berkenalan dengan orang tuamu dan kau dengan orang tuaku. Setiap asa pun, aku taruh akanmu. Sederhana, namun rumit. Ya, itulah memoriku akanmu. Ku kira, inilah awal dari jatuhnya bunga-bunga itu. Namun, setelah kusadari, ternyata itu adalah musim panas. Bunga pun mati karenanya. Tak ada yang gugur.
            Kala itu pun, aku mengharapkan datangnya hujan. Hujan deras dengan guyuran air dari awan-awan kelabu. Hujan! Namun, apa dayaku, hujan itu datang disaat aku mulai melupakanmu. Namun, tak apalah, mungkin memang bumi sedang bergejolak dan samudera pun terlambat menguapkan airnya, sehingga hujan pun datang agak mengecewakan. Ya, aku merasa bahaia karena hujan itu darimu. Walaupun terlambat, ku tetap bahagia. Kau mulai tumbuhkan lagi bunga-bunga yang telah mati karena panasnya suhu. Kau mulai hijaukan lagi rumput-rumput dalamku, sehingga akupun merasa teduh dan nyaman karena dikelilingi bunga dan berbaring di padang rumput yang asri.
            Karena ini semua pemberianmu, ku berterima kasih kepadamu, dengan selalu merawat dan menjaga agar bunga-bunga ini tetap tumbuh dan rumput-rumput itu tetap hijau. Bagaimana? Kau telah menjatuhkan hujan dan aku telah membuat kubangan. Di situlah, aku menyimpan sisa air hujamnu, agar aku bisa menyirami bunga dan rumputku semua. Setiap hari. Tak peduli sebagaimana sengsaranya aku. Ku sirami terus bunga-bunga itu setiap pagi dan sore. Oleh karenanya, nyaman bersamamu mulai muncul dalamku. Ya, menciptakan memori bersama yang sampai sekarang tak bisa ku pindahkan ke pengepul rongsokan.
            Ada hujan, berpeluanglah ada badai. Ternyata terjadi. Badai tiba-tiba kau berikan kepadaku. Karena aku pun tak ada persiapan, luluh lantahlah seluruh bunga-bungaku. Mereka yang tadinya tumbuh subur dalam pot, yang bahkan setiap hari ku sirami dengan air hujanmu, kini berserakan entah kemana. Tanpa arah.
            Tak kusangka, ternyata yang mengirim badai ini ialah kau sendiri. Kau yang menyuburkan bungaku, kau sendiri yang merusakya. Kau sendiri yang memberiku apa yang disebut cinta, namun kau sendiri yang membantahnya, dengan mencari hati lain. Mencari hati yang lebih banyak bunga dan rumputnya. Hati yang siap kau beri hujan kapanpun kau mau.
            Saat itu pun, kau masih saja memberikan hujan kepdaku, namun tanpa air. Ya, hujan tanpa air. Lalu, bagaimana aku bisa menumbuhkan kembali bungaku? Atau, kau memang berkehendak untuk membiarkanku berdiri mematung, melihat bunga dan rumputku yang telah berseraan? Itukah maumu?
            Bila memang benar, tak apalah bila aku yang harus menerimanya. Karena sejujurnya, dari awal pun kau telah banyak menancapkan paku-paku ke lubukku dan kau melepasnya. Namun, ingatlah, biarpun paku itu telah tiada, bekas tak akan sirna. Sekarang, kau menancapkan linggis kepadaku? Akankah kau cabut? Tak perlu!
            Sekarang, kalau boleh pun, aku hanya bisa memanjatkan permintaan terakhirku kepadamu. Sederhana. Niscaya, kau bahagia. Yaitu, jauhilah aku. Biarkanlah aku sendiri yang membereskan bunga-bungaku. Biarlah aku sendiri yang menumbuhkannya kembali. Setidaknya, bukan atas hujanmu! Lebih baik kau berikan bibit mawar kepadanya. Sertailah dengan hujanmu! Aku pun berharap, kau bisa lebih bahagia melihat bunga-bunga itu tumbuh di hatinya. Apabila kau pun telah melihatnya tumbuh subur dan kau ingin memetiknya, tak perlulah kau menengok lagi ke arahku. Aku sudah cukup puas dengan segala perihku. Sebab, pandanganmu ke arahku akan mengirimkan badai yang lebih hebat lagi.
Tolonglah, kabulkan permohonanku. Aku hanya ingin, menghapus memori atasmu. Setidaknya, sampai aku menemukan rindu kembali atasmu. Aku hanya ingin, kau lebih bisa memahaminya. Kasihanilah dia, yang telah mencangkul banyak lubang untuk bungamu. Kasihanilah dia! Tekadnya pun sudah bulat, memilikimu. Maka, aku pun berubah pikiran, guyurkanlah hujan tanpa air ke kebunku, agar bungaku tak mati lagi. Tak mati lagi.
Inilah yang dapat ku tuliskan atas jeritan pedih lubukku ini. Bila kau tak menggubrisnya, setidaknya aku minta, kabulkanlah permohonanku. Sampai jumpa, itu pun kalau waktu memperbolehkan kita bertemu lagi. Semoga kau bisa bahagia dengannya.



Dari seseorang yang pernah kau berikan bunga,

-K.A.P / 11-

Karena apapun yang kau katakan,
bagaimanapun kau menolaknya,
cinta akan tetap berada di sana,
menunggumu mengakuinya.
Sebab debu pun telah menjadi saksi akan kita,
bagaimana kau dan aku selalu bersama,
bersama untuk berpisah,
walau mungkin aku yang patut disalahkan saat ini,
atas ekspektasiku yang berlebihan akanmu.
Sekarang, aku hanya bisa mengucap,

“Inilah waktu untuk memandang kenyataan, bahwa aku tak akan mungkin bersamamu.”

Jumat, 18 Maret 2016

PUISI LIRIK: Kepadamu Sang Tukang

Kepadamu Sang Tukang

Kepadamu sang tukang, aku hanya mampu terbelalak dan menganga, atas setiap susunan batu yang kau susun selama ini. Kepadamu sang tukang, aku hanya mampu mengucakan “amboi” atas tembok yang kau buat untukku.
Suatu hari, gundahku tiba dari plesirnya di antah berantah. Tembok itu, kini cacat. Padahal, aku hanya ingin menempelkan origami bunga di antara origami-origami yang lain. Padahal, maksudku hanya ingin merekatkan antara lem dan batu itu. Akan tetapi, catat!
Sebagai perang atas gundahku, biarkanlah aku mencari batu penggantinya. Biarkanlah aku yang mengganti batu itu. Aku pun berjanji, tak sekadar batu kali! Setelahnya, biarkanlah aku menjaga tembok itu dari lumut. Sediaku membersihkannya. Mengapa? Agar origami-origami yang telah aku buat sebelumnya, tak dilahap lumut berdosa.
Oleh karenanya, izinkanlah aku melakukannya. Tapi, kau pun tahu, tak ada anak lahir dari si jantan. Temani aku! Hingga sampai penjajah datang, kau bisa menyadari, sungguh eloknya tembok yang kau bangun, bersenandung mesra dengan origami-origamiku. Maka, bersiaplah untuk itu, sang tukang!

Senin, 02 Februari 2015

Love Poetry

My Lost Hope
By: Kristian Adhi Prasetyo

Source: http://artatm.com/wp-content/uploads/broken_heart_by_fastreflex-1.jpg


Everything I’ve given to you
Everything you need
Without a thanks
But it will not disturb me

But suddenly, you go
Go to the another way
Leave me alone with your last words
“In the past, do you really love me?”

It becomes a sharp slicer
Slicing my heart into some pieces
But you don’t fell it
And never fell it

You force me apologize your fault
But I know, it’s not your fault
Just my big fault
That I never tell to you


http://images.forwallpaper.com/files/images/0/02fe/02fea266/145524/walking-alone.jpg
Lost
Dark
Alone
Empty

Walking in my way
With my broken hope
Just pray for you
Be better than before

I hope you will be happy
With your new choice
Just go with your past memory
And get another experience

Source: http://www.picshunger.com/wp-content/uploads/2014/04/Broken-heart-two-part-heart-wallpaper.jpg


Rabu, 17 Desember 2014

CERPEN LIKA-LIKU KEHIDUPAN

SALAHKAH AKU
 gambar-animasi-orang-berfikir
Sumber gambar: http://fitri02.ilearning.me/2013/06/24/
Karya: Kristian Adhi P.

            Kebanyakan orang bilang kalau aku memiliki suatu yang tak mereka punya. Bahkan, sebagian lagi menganggap aku aneh. Aku pun tak tahu, apa yang sebenarnya mereka nilai dari diriku. Kupikir, mereka hanya mencari alasan saja. Atau malah, mereka mau berteman denganku.
            Kisah ini berawal ketika aku masih berumur kira-kira 8 tahun. Aku memiliki beberapa kesenangan yang kebanyakan orang tidak menyukainya. Aku tertarik dengan dunia komputer, mengutak-atik segalanya sendiri. Hal inilah yang mungkin membuatku menjadi merasa nyaman dengan duniaku. Ya, sejak itu aku lebih suka menyendiri, menjalankan program-program komputer, yang dimana anak seusiaku kala itu mungkin tidak tahu cara menjalankannya. Karena aku mulai nyaman dengan apa yang jadi kesukaanku itu, pernah hampir delapan jam aku menghabiskan waktuku di depan komputer, memainkan permainan kesukaanku. Bahkan aku sempat lupa makan kala itu. Tentu, tak pelak, orang tuaku memarahiku habis-habisan. Sejak itu, aku pun mulai sadar, bahwa kesukaanku itu salah.
            Baiklah, aku mencoba melakukan kesukaanku yang lain. Menggambar dan menyukai kartun, itulah kesukaan baruku. Kali ini pun, aku berharap tidak terulang kembali peristiwa menyakitkan sperti yang lalu. Setiap ada gambar dan kartun yang bagiku menarik, aku berusaha meniru gambar itu. Hingga bahkan, aku mulai tertarik dengan kesukaan baruku itu. Aku mulai masuk pada zona nyaman menyukainya. Aku pun menuangkan segala imajinasiku ke dalam kartun. Saat itu, aku pun mulai didekati teman-teman, sekadar untuk membuatkan gambar sesuai yang mereka mau. Tentu, aku terima dengan senang hati. Harapanku, mereka tak hanya jadi temanku saat mereka membutuhkan gambar bagus dariku. Namun juga untuk selamanya, menjuadi tempat mencurahka isi hatiku kepadanya.
            Memasuki usia SMP, aku kembali mengalami peristiwa pahit. Aku kembali dijauhi teman-temanku. Banyak yang melakukan “bully” terhadapku. Hanya karena aku sering tak mau meminjamkan apa yang mereka minta. Bukannya tak mau, aku hanya tak mau kehilangan benda-bendaku, karena aku sadar aku orang yang teledor. Namun, mereka menganggap aku sombong, tak peduli teman, bahkan mereka menghardikku kalau aku lebih baik hidup sendiri saja di dunia ini. Ku hanya bisa tertegun mendengarnya. Apa sebenarnya salahku? Apa yang menjadikanku mengalami kejadian ini terus menerus? Apakah Tuhan juga membenciku? Ah, mereka hanya bercanda! Mungkin, mereka ingin menujukkan kalau mereka mau bersahabat denganku.
            Tebakanku itu ternyata salah besar. Dalam hati, mereka secara tak langsung membunuhku perlahan. Mereka terus menerus memaki aku dan menyalahkan aku, bahkan untuk sesuatu yang terkadang aku anggap aku benar melakukannya. Entah, apa yang jadi pemikiran mereka. Aku pun tak tahu. Sejak itu, aku mulai merasa frustasi. Aku mulai melampiaskan segalanya ke orang rumahku. Aku pun enggan bergaul dengan teman-teman sebayaku di sekitar rumahku. Ya, trauma mendalam membuatku menghindarkan diri dari setiap aktivitas anak kebanyakan. Aku pun tak mau, mereka yang bisa aku jagakan untuk menjadi tempat mencurahklan isi hatiku, malah menjadi pembunuhku yang lain. Aku mulai banyak mengurung diri di kamarku. Aku pun membuat kondisi ruang pribadiku itu menjadi beda total dari semula. Ini semua menjadi tempat mencurahkan segala frustasiku.
            Rasa frustasiku ini semakin memuncak ketika orang tuaku memulai masalah pribadi. Hampir setiap hari mereka mereka melakukan adegan yang tak sepantasnya di depan mataku sendiri. Oleh karena itu, aku merasa semakin tertekan. Karena rasa emosi yang memuncak, tak segan-segan aku mengambil pisau di dapur, dan ingin rasanya aku memotong tangan ayahku yang selalu menyakiti raga  ibuku.
            Hingga akhirnya, aku diungsikan ke rumah nenekku. Aku merasa sedikit bahagia, karena aku berasa bisa bebas dari segala hal yang membuat aku frustasi ini. Aku pun bisa membuat diriku nyaman dan melupakan segala yang terjadi. Aku kali ini bisa mengekspresikan apa yang aku mau dengan bebas tanpa halangan ayahku. Oke, saat inilah aku merasa dunia ada di tanganku.
            Karena aku merasa bebas dan nenekku juga tidak terlalu memperhatikan apa yang aku lakukan, maka aku menjadi sangat nyaman dengan diriku. Kebiasaan lamaku kembali aku lakukan tanpa sadar. Aku kembali menjadi pelit, kata orang. Aku pun dianggap sebagai biang keladi terjadinya masalah-masalah di kelasku. Hanya karena aku menginginkan apa yang aku kehendaki terlaksana.
            Suatu hari, di pagi yang dingin, aku dan teman-teman belajar di kelas sperti biasa. Karena aku merasakan hawa dingin yang terlalu menyerbak, akhirnya aku berniat mematikan kipas angin yang sedang berputar tepat di atasku. Tanpa pikir panjang, langsung saja aku menuju ke saklar kipas angin itu, lalu mematikannya. Tetapi, teman-temanku menyorakiku. Entah apa yang mereka pikirkan, aku tak menggubrisnya. Aku kembali duduk di bangkuku, dan melanjutkan belajarku.
Tak berselang lama, ada satu temanku, tepat ia duduk di depanku maju ke arah saklar kipas itu. Ia menyalakan kipas angin itu. Tentu, aku tak terima dengan apa yang ia perbuat. Akhirnya, sebelum ia duduk,. Aku bergegas ke saklar itu dan mematikannya lagi. Tetapi, temaku berusaha menghidupkannya ulang. Aku pun langsung memegang tangan temanku itu, memberanikan diriku menghadapinya. Ia kaget. Tetapi, ia malah membalasnya dengan tatapan tajam, seolah menantangku. Aku pun tak takut menghadapinya. Langsung saja aku menampar pipinya. Ia pun tak terima dan langsung mencengkeram kuat tanganku. Aku sebenarnya merasa kesakitan hebat, tapi karena aku sudah berniat menghadapinya, aku tahan sakit itu. Kejadian ini berlangsung hingga guru kami memisahkan kami. Kami pun seketika itu juga dibawa ke ruang BK untuk berdamai. Sejak saat itulah, aku merasa risih dan terganggu bila temanku tak melaksanakan apa yang jadi kehendakku.
            Hari terus berlalu. Tiba saatnya aku masuk SMA. Ya, umurku memang sudah dewasa, tetapi rasa ingin menegakkan kehendakku masih belum hilang dari diriku. Kembali aku mengalami masa yang sama ketika aku SMP lalu. Singkatnya, ketika jam Pramuka berlangsung, aku sempat terbawa emosiku karena teman-temanku sangat gaduh kala kakak-kakak DA sedang menjelaskan tentang materi yang dipelajari, drama. Aku saat itu langsung mengambil microphone yang sedang dipakai kakak DA menjelaskan. Aku langsung berteriak keras, “Saat dijelaskan tidak ada yang bicara, semua diam!” Sontak saja, seluruh aula bergemuruh menertawakan aku. Karena aku merasa emosiku memuncak, aku akhirnya membanting baret Pramukaku ke lantai. Bukannya diam, teman-teman di aula malah semakin meledek aku. Agar suasana tak semakin kacau, akhirnya salah satu guru pendamping mengajakku keluar ruangan dan menasehatiku. Karena aku sudah terbawa emosi kala itu, aku tak terlalu mendengarkan apa yang ia sampaikan.
            Kejadian ini terulang saat kenaikan kelas hampir dekat. Aku kembali terbawa emosi karena melihat teman-temanku yang terlalu lelet dan tidak cekatan dalam beraktivitas. Kegiatan kala itu ialah tentang empon-empon, yaitu kami harus membau dan mengiris sedikit bumbu dapur itu satu per satu, agar kami bisa menjawab soal yang diberikan. Emosiku memuncak ketika aku menyodorkan pisau ke arah teman-temanku yang aku anggap lelet. Aku pun kembali menerima cercaan, cemoohan dan lagi-lagi aku harus dibina oleh guru pembina yang sama. Jujur, aku sudah amat bosan ketika guru menegurku dan menasehatiku. Sungguh, apakah mereka tidak tahu, aku hanya ingin mengajarkan mereka disiplin dan bekerja cekatan? Sungguhkah aku salah, melakukan hal yang aku anggap benar?
Aku masuk kelas XI. Dan ternyata, bayanganku teman-teman kelas XI yang bisa menerimaku apa adanya, hanya sebagian kecil saja. Bagiku, hanya ada segelintir orang saja yang benar-benar mau menerima aku dan menghargai aku apa adanya. Aku kembali merasa teransingkan, dan lagi-lagi aku kembali asyik dengan laptopku setiap pembelajaran berlangsung.
            Sebulan aku di kelas XI, aku jatuh sakit. Aku mendertia penyakit yang dianggap mudah menular, cacar. Maka, entah apa, tidak ada satu temanpun yang mau menjengukku, sekadar datang dan menemuiku. Mungkin , sudah banyak kesalahan yang aku perbuat kepada mereka. Atau, mereka enggan menemuiku hanya karena aku menderita cacar.
            Sekembalinya aku masuk sekolah, ternyata bayanganku itu salah besar. Ternyata, mereka tidak menjengukku karena mereka terlalu banyak tugas dan ulangan seminggu ini. Wali kelas ku pun menceritakan, bahwa sebenarnya aku selalu mereka perhatikan penuh, bahkan setiap detil penyakitku, melalui perantara orang tuaku. Sejujurnya, aku tak yakin dengan apa yang mereka bicarakan. Namun, aku hanya berpikir, ternyata bayanganku terhadap mereka salah.
            Akhirnya, pada jam kosong, teman-temanku mulai peduli denganku. Mereka pun seolah mengajukan syarat kepadaku, agar mereka mau berteman denganku. Setelah urumuskan, ternyata mereka hanya ingin aku berubah. Berubah menjadi orang yang peduli dengan teman sejawat, tidak hanya bermain laptop sepanjang hari. Ternyata, selama ini mereka peduli denganku. Mereka pun tak ingin aku terjerumus ke arah yang sesat, hanya karena aku egois dan kurang peduli.
            Semenjak itu, aku sekarang berktekad mengubah diriku. Aku mulai mendekati setiap teman-temanku yang butuh dampinganku. Walaupun aku masih sulit mengubah kebiasaanku, namun guru-guru dan teman-teman sudah mulai mengapresiasi kerja kerasku dalam aku mengubah diriku. Oleh karena inilah, aku kembali bisa merasakan nyaman dan damai dalam hatiku. Sehingga, aku bisa menyimpulkan bahwa teman itu ternyata lebih penting dari diri sendiri, karena tanpa teman aku tak bisa berbuat banyak, bahkan sekadar untuk belajar.

-----TAMAT-----

Rabu, 10 Desember 2014

Describing Place-Balekambang, Surakarta, Central Java, Indonesia

BALEKAMBANG
Surakarta City Park

 written by: Kristian Adhi Prasetyo

          If you ask me, “What is your favorite place?”, actually I’ll say,”Balekambang”. Why? Because, in this place, you can enjoy the fresh air because there are some big trees which produce fresh oxygen for your body. And, we can see so many plants, flowers, and some scarce trees there. I guess, if you come there, you’ll fell the different experience, actually better than the others city park.
       Beside of them, you can see so many animals too. Such as, monkeys, deer, snakes, duck, fish, and etcetera in the mini zoo and a little pond. But, we are not allowed to give them food. It can be make some risk of their life.
     There, we can enjoy the fresh air, to relax after a busy day, a crowded street, and maybe after work done outside of normal working hours. Or, we can socialization with the others. Or, just for recreation for a weekend or holiday.
        In this place, there is a small lake. By the myth, the lake was a poll for the Surakarta Hadiningrat king or queen. But now, we can’t swim there. Because it’s too danger. So, as a change, you can play duck boat to take around the pond and seeing some unique fish there.
        If you wanna to try some challenge, Balekambang invites you to try the outbound there. There are flying fox, tire bridge, hanging tire, and many more. 
     The park closed at 18.00. But, in the Saturday night, there is a Javanese culture performance, called Kethoprak. Or sometimes, a traditional ballet form a story called Ramayana. The others events sometimes held there too.
        I think that’s all about my favorite place. If you wanna go there, 08.00 until 17.00 is the best time to enjoy the situation there. 
       Thanks.

Selasa, 10 Juni 2014

All About Indonesia



 



Indonesia is a tropical country made up entirely of islands. How many islands? It’s got more than 13,600 of them! Tigers, pythons, and crocodiles live in thick rain forests that cover some of the islands. Towering mountains and active volcanoes rise across Indonesia, the world’s largest island nation.

People live on about half of Indonesia’s islands. The main islands include Java, Sumatra, and Sulawesi. Thousands of Indonesia’s smaller islands are little more than tiny dots of land. Indonesia also owns parts of the islands of Borneo, New Guinea, and Timor. Many Indonesians use boats for fishing and traveling between the islands.

 
Facts About Indonesia


Official name Republic of Indonesia
Capital Jakarta
Official language Bahasa Indonesia
Population 238,000,000 people
Rank among countries in population 4th
Major cities Jakarta, Bandung, Surabaya
Area 735,000 square miles
1,900,000 square kilometers
Rank among countries in area 15th
Highest point  Mt. Jaya Wijaya (Papua Island)
16,503 feet/5,030 meters
Currency Indonesian Rupiah (IDR)

Map of Indonesia
WHERE IS INDONESIA?

The Indonesian islands lie near the equator, the imaginary line that encircles Earth around its middle. They stretch for thousands of miles, from the Malay Peninsula almost to Australia. The islands form a chain that separates the Indian and Pacific oceans.

PEOPLE OF INDONESIA

For centuries, traders sailing between India and China had to pass through Indonesian waters. Most traders sailed through the Straits of Malacca, a narrow waterway between Sumatra and Malaysia. Over time, many different people settled in Indonesia. The islands have many native tribes, too. Today, about 300 different languages are spoken across Indonesia.

Indonesia is the world’s fourth most populous country, after China, India, and the United States. Some Indonesian islands are very crowded. More than half of Indonesia’s 238 million people live on just one island, Java. Java covers an area about the size of New York state. Jakarta, Indonesia’s capital and largest city, is located on Java.

TROPICAL WEATHER

Indonesia is in the tropics, so the climate is hot and humid all year round. Instead of hot and cold seasons, Indonesia has wet seasons and dry seasons.

Winds called monsoons cause Indonesia’s wet and dry seasons. From November through March, the winds carry heavy rains to Indonesia. From June to October, the winds bring dry air to the islands.

MOUNTAINS AND VOLCANOES

Mountains and volcanoes cover much of Indonesia. In fact, Indonesia has more volcanoes than any other place in the world. Volcanoes rise on all the major islands except Borneo and New Guinea. A volcano erupts somewhere in Indonesia at least once a year.

Many Indonesian people live near volcanoes. That’s because volcanic ash (dust that falls from the air after an eruption) makes the soil good for farming. When volcanoes erupt, they can kill many people.

KRAKATAU

One of the worst volcanic eruptions in history occurred in Indonesia. In 1883, a volcano blew up the island of Krakatau. The eruption caused huge tsunamis (tidal waves) that killed thousands of people. The explosion made one of history’s loudest noises. It could be heard 3,000 miles (4,800 kilometers) away!

UNUSUAL ANIMALS

Wildlife flourishes in Indonesia, especially on islands where few people live. Indonesia is home to many rare animals, including rhinoceroses, elephants, and dwarf buffaloes. Brightly colored parrots, parakeets, and birds of paradise can be seen in the tropical forests.

The dangerous Komodo dragon, the world’s largest lizard, lives only on several small Indonesian islands, including the island of Komodo. It can grow more than 10 feet (3 meters) long and weigh 365 pounds (165 kilograms)!

Another rare animal found only in Indonesia is an ape called the orangutan. The name orangutan means “man of the jungle” in the Malay language. Orangutans spend most of their time in trees. Today, orangutans are endangered because Indonesian loggers have cut down so much of the tropical forest.

THE SPICE ISLANDS

Long ago, Indonesia was famous for its spices. Part of Indonesia was known as the Spice Islands. The people of Europe greatly prized the spices of Indonesia. Merchants carried the spices back to Europe, where black pepper was more valuable than gold!

Europeans fought over Indonesia throughout the 1500s and early 1600s. The Dutch eventually won, and they took control of Indonesia. The Dutch forced Indonesian people to grow spices and other valuable crops, and they took all the wealth back to Europe. Indonesia did not gain its freedom until 1949.

CUSTOMS OF INDONESIA

Rice is the main food of Indonesians. Rice is grown throughout Indonesia, and it is usually eaten at every meal. Black tea is a popular beverage.

One of Indonesia’s best-known arts is called batik. It’s a method of dyeing cloth to make beautiful patterns. Batik is cloth painted with melted wax and then dyed. The waxed areas do not absorb the dye. When the wax is removed, the patterns remain.

Puppet shows are another famous art form of Indonesia. The puppets are usually made from wood or leather. Yet the audience never sees the puppets. The puppeteer moves the puppets behind a white screen to act out a story. The audience sits on the other side. It sees only the shadows of the puppets on the screen.

HINDUISM AND ISLAM

The shadow puppet plays often tell stories from Hindu poems. The people of Bali, a small Indonesian island, follow a form of Hinduism. Hinduism is a religion that came to Bali from India. Hinduism has greatly influenced the culture of Indonesia.

Yet most Indonesians are not Hindus. They are Muslims, or followers of Islam. In fact, nearly 90 percent of Indonesians are Muslim. That makes Indonesia the largest Muslim country in the world.

Taken from: Microsoft Encarta 2009. 1993-2008 Microsoft Corporation.