Hujan Tanpa Air
Dari
jurang lubuk yang tergelap,
Entah
kapan aku harus tuliskan waktunya.
Kepadamu
yang dulu pernah ku harapkan,
Hanya secuil kisah, betapa pahitnya
pengorbanan yang tak terbalaskan, dariku
untukmu yang akan ku tuliskan di lembaran lusuh ini. Tak bermakna, apalagi
bagimu yang selalu memberikan pisau-pisau itu seikhlasmu. Ya, mungkin ini ialah
sampah busuk bagimu. Sampah!
Sekadar catatan kecil bagimu, aku yang
pernah banyak mengertimu. Saat kau membutuhkanku, aku pun lagsung mengiyakan,
walaupun mungkin aku sangat sibuk. Akulah yang dulu selalu mengirimkan morse
kepadamu. Mengapa? Itulah yang kau minta sendiri. Kau merasa terganggu apabila
kau dan aku “dijodohkan” oleh mereka.
Sementara
langit menunjukkan kasihnya kepada kita, ia menunjukkan sang dewa tertinggi di
siang dan dewi yang setia menemani di kala malam, kau justru mengambil lubukku
atas lakuku, lalu merusaknya, merobeknya, dan membuangnya serta menuduhku atas
apa yang tak kulakukan (ya, karena kala itu aku belum menaruh hati kepadamu).
Namun, itukah yang telah kau berikan kepadaku? Sekadar ucapan terima kasih,
bahkan senyuman simpul pun tidak. Ya, tidak!
Memang,
kala ini akulah yang bersalah. Tak menggubrismu disaat kau mendekatiku. Memang
ini salahku, menaruh ekspektasi setinggi awan, namun justru kau menjatuhkanku
di serpihan batu tajam yang menunjam.
Tak
bisa ku buang, setiap jengkal memori lama atasmu. Selfie bersamamu, membuat tugas, membicarakan teman, sampai aku
berkenalan dengan orang tuamu dan kau dengan orang tuaku. Setiap asa pun, aku
taruh akanmu. Sederhana, namun rumit. Ya, itulah memoriku akanmu. Ku kira,
inilah awal dari jatuhnya bunga-bunga itu. Namun, setelah kusadari, ternyata
itu adalah musim panas. Bunga pun mati karenanya. Tak ada yang gugur.
Kala
itu pun, aku mengharapkan datangnya hujan. Hujan deras dengan guyuran air dari
awan-awan kelabu. Hujan! Namun, apa dayaku, hujan itu datang disaat aku mulai
melupakanmu. Namun, tak apalah, mungkin memang bumi sedang bergejolak dan
samudera pun terlambat menguapkan airnya, sehingga hujan pun datang agak
mengecewakan. Ya, aku merasa bahaia karena hujan itu darimu. Walaupun
terlambat, ku tetap bahagia. Kau mulai tumbuhkan lagi bunga-bunga yang telah
mati karena panasnya suhu. Kau mulai hijaukan lagi rumput-rumput dalamku,
sehingga akupun merasa teduh dan nyaman karena dikelilingi bunga dan berbaring
di padang rumput yang asri.
Karena
ini semua pemberianmu, ku berterima kasih kepadamu, dengan selalu merawat dan
menjaga agar bunga-bunga ini tetap tumbuh dan rumput-rumput itu tetap hijau.
Bagaimana? Kau telah menjatuhkan hujan dan aku telah membuat kubangan. Di
situlah, aku menyimpan sisa air hujamnu, agar aku bisa menyirami bunga dan
rumputku semua. Setiap hari. Tak peduli sebagaimana sengsaranya aku. Ku sirami
terus bunga-bunga itu setiap pagi dan sore. Oleh karenanya, nyaman bersamamu
mulai muncul dalamku. Ya, menciptakan memori bersama yang sampai sekarang tak
bisa ku pindahkan ke pengepul rongsokan.
Ada
hujan, berpeluanglah ada badai. Ternyata terjadi. Badai tiba-tiba kau berikan
kepadaku. Karena aku pun tak ada persiapan, luluh lantahlah seluruh
bunga-bungaku. Mereka yang tadinya tumbuh subur dalam pot, yang bahkan setiap
hari ku sirami dengan air hujanmu, kini berserakan entah kemana. Tanpa arah.
Tak
kusangka, ternyata yang mengirim badai ini ialah kau sendiri. Kau yang
menyuburkan bungaku, kau sendiri yang merusakya. Kau sendiri yang memberiku apa
yang disebut cinta, namun kau sendiri yang membantahnya, dengan mencari hati
lain. Mencari hati yang lebih banyak bunga dan rumputnya. Hati yang siap kau
beri hujan kapanpun kau mau.
Saat
itu pun, kau masih saja memberikan hujan kepdaku, namun tanpa air. Ya, hujan
tanpa air. Lalu, bagaimana aku bisa menumbuhkan kembali bungaku? Atau, kau
memang berkehendak untuk membiarkanku berdiri mematung, melihat bunga dan
rumputku yang telah berseraan? Itukah maumu?
Bila
memang benar, tak apalah bila aku yang harus menerimanya. Karena sejujurnya,
dari awal pun kau telah banyak menancapkan paku-paku ke lubukku dan kau melepasnya.
Namun, ingatlah, biarpun paku itu telah tiada, bekas tak akan sirna. Sekarang,
kau menancapkan linggis kepadaku? Akankah kau cabut? Tak perlu!
Sekarang,
kalau boleh pun, aku hanya bisa memanjatkan permintaan terakhirku kepadamu.
Sederhana. Niscaya, kau bahagia. Yaitu, jauhilah aku. Biarkanlah aku sendiri
yang membereskan bunga-bungaku. Biarlah aku sendiri yang menumbuhkannya
kembali. Setidaknya, bukan atas hujanmu! Lebih baik kau berikan bibit mawar
kepadanya. Sertailah dengan hujanmu! Aku pun berharap, kau bisa lebih bahagia
melihat bunga-bunga itu tumbuh di hatinya. Apabila kau pun telah melihatnya
tumbuh subur dan kau ingin memetiknya, tak perlulah kau menengok lagi ke
arahku. Aku sudah cukup puas dengan segala perihku. Sebab, pandanganmu ke arahku
akan mengirimkan badai yang lebih hebat lagi.
Tolonglah, kabulkan permohonanku. Aku
hanya ingin, menghapus memori atasmu. Setidaknya, sampai aku menemukan rindu
kembali atasmu. Aku hanya ingin, kau lebih bisa memahaminya. Kasihanilah dia,
yang telah mencangkul banyak lubang untuk bungamu. Kasihanilah dia! Tekadnya
pun sudah bulat, memilikimu. Maka, aku pun berubah pikiran, guyurkanlah hujan
tanpa air ke kebunku, agar bungaku tak mati lagi. Tak mati lagi.
Inilah yang dapat ku tuliskan atas
jeritan pedih lubukku ini. Bila kau tak menggubrisnya, setidaknya aku minta,
kabulkanlah permohonanku. Sampai jumpa, itu pun kalau waktu memperbolehkan kita
bertemu lagi. Semoga kau bisa bahagia dengannya.
Dari seseorang yang pernah kau berikan bunga,
-K.A.P / 11-
Karena apapun yang kau katakan,
bagaimanapun kau menolaknya,
cinta akan tetap berada di sana,
menunggumu mengakuinya.
Sebab debu pun telah menjadi saksi akan
kita,
bagaimana kau dan aku selalu bersama,
bersama untuk berpisah,
walau mungkin aku yang patut disalahkan
saat ini,
atas ekspektasiku yang berlebihan
akanmu.
Sekarang, aku hanya bisa mengucap,
“Inilah waktu untuk memandang kenyataan,
bahwa aku tak akan mungkin bersamamu.”



