Pages

Rabu, 26 September 2012

RENUNGAN



Rajawali Sang Perwira

      Pada jaman dulu, sering terjadi peperangan antara bangsa Mongolia Barat dengan Mongolia Timur. Bangsa Mongolia Timur yang merupakan bangsa asli berusaha mempertahankan wilayahnya dari Mongolia Barat. Saat itu, hanya panglima besarlah yang layak memberi perintah.
      Di suatu wilayah di Mongolia Timur, terdapat suatu kerajaan besar yang menjadi kunci pertahanan Mongolia Timur. Di kerajaan itu, terdapat seorang perwira gagah berani bernama John Haag von Bosch. Dia adalah perwira keturunan Belanda. Bersamanya, ada satu pasukan yang kuat. Pasukan ini juga menjadi kunci utama perlawanan terhadap Mongolia Barat.
      John Haag, mempunyai seekr Rajawali yang sudah berumur kira-kira dua tahun. Rajawali itu menjadi rajawali kesayangannya, sebab kemanapun ia pergi, rajawali itu selalu diajaknya di atas pundaknya, bahkan saat perang sekalipun. Rajawali ini sudah menolong John dan pasukannya beberapa kali. Saat ada bahaya, rajawali ini selalu memberitahu John dengan cara yang beragam.
      Suatu saat, ada berita bahwa Mongolia Barat akan masuk ke wilayah Mongolia Timur melalui hutan tengah. Semua penduduk dan kerajaan menjadi panic. Kemudian, salah seorang panglima besar bernama Michael Richard memutuskan untuk menyuruh pasukan John untuk menjaga hutan tengah. Dengan persiapan seadanya dan tidak begitu banyak membawa bekal, John dan pasukannya yang berjumlah banyak itu berangkat. Tak lupa, John membawa rajawali kesayangannya itu. Mereka menetap di hutan selama kuranglebih tiga hari. Selama itu, tiada penyerangan berarti dari Mongolia Barat.
      Saat sore hari tiba, John merasa haus yang amat sangat. Kemudian, ia berniat mengambil air dari salah satu sumber air,  yang lokasinya tak jauh dari tempat mereka menetap. John kemudian mengeluarkan suatu cawan dari tanah liat, peninggalan ayahnya. Saat ia ingin meminum air yang sudah  diambilnya dalam cawan, datanglah rajawali tersebut menyalak John. Air dalam cawan itu tumpah. John berpikir, rajawali itu hanya mengajak bercanda, jadi ia biarkan. Saat ia ingin meminum air itu kedua kalinya, rajawali tadi kembali menyalak John. Kali ini, John mulai emosi, sebab cawan peninggalan itu sedikit retak akibat burung itu. Tapi, John masih membiarkannya. Saat ketiga kalinya, John inign meminum air itu kembali, datanglah rajawali itu dari sisi kanan John, tanpa sepengetahuan John. Kali ini, John benar-benar emosi, sebab cawan itu kini sudah menjadi pecah.
      Saat rajawali itu kembali, John segera menangkap dan menggantungnya di cabang pohon besar. Setelahnya, ia mengambil pedang, dan segera mengarahkannya kearah rajawali itu. Rajawali itu pun terbunuh pedang John. Kemudian, John mengubunya di bawah pohon itu. Kembalilah John ke tempat mereka menetap. Tanggaplah seluruh pasukan dan menanyai John dimana rajawali itu. Tetapi John berdiam diri dan segera masuk ke kemahnya.
      Keesokan harinya, John dan kawan-kawannya berniat kembali ke istana mereka. Sebelum berangkat, mereka memutuskan untuk mencari air sebagai bekal di perjalanan. Mereka pun mencari hulu sumber mata ari yang dekat kemah mereka. Setelah sampai, John dan kawan-kawannya terkejut saat ada bangkai raksasa yang sudah membusuk. Bangkai itu tergeletak tepat di atas sumber air itu muncul. Mereka mengurungkan niat mereka untuk mengambil air itu, sebab mereka tahu air itu sudah terkontaminasi oleh bakteri dari bengkai itu. Tiba-tiba, John berlari kembali ke kemahnya dan segera mencari sekop. Ternyata, ia menggali kembali tempat rajawali itu diletakkan. Ia mengangkatnya dan memeluknya erat rajawali yang sudah mati itu. Ia sangat menyesal, dan meneteskan air mata. Ia tahu, bahwa burung itu sebenarnya sudah punya niat baik untuk meengingatkan John. Apabila tidak diingatkan, mungkin John sudah sakit akibat meminum air tercemar itu. Kemudian, datanglah teman pasukannya. Ia berusaha keras membujuk John untuk melupakan dan meninggalkan semuanya, sebab apa ang telah terjadi tak mungkin bisa diulang.
      John pun bangun dan memberesi kemahnya, beserta dengan teman pasukan lainnya. Ia lalu membawa rajawali itu ke istana. Sesampai mereka di istana, mereka diharuskan untuk melapor kepada panglima besar. Sesudah itu, John mencari bahan pengawet dari bahan seadanya. Kemudian ia mengolesinya ke tubuh rajawali itu. Selanjtunya, rajawali itu diletakkan di atas sebatang rantig tebal. Kembali diolesinya tubuh rajawali itu. Kemudian, John menyimpan benda tersebut di ruanggannya, dengan ditutupi pati kaca dilapisi perunggu. Sejak saat itu, John menjadi sadar, bahwa ia harus berani mengingatkan kesalahan orang lain, seperti apa yang telah dilakukan rajawali itu kepadanya. Selama dalam mengingatkan itu, didasarkan pada kasih dan kelemah lembutan. Dan, harus mau menerima apa yang menjadi setiap resikonya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar